Minggu, 12 Maret 2017

Kutunggu jodohku sampai batas waktu

Cemburu aku pada sepasang burung itu mereka saling membersihkan sisa makanan yg menempel pada paruh. Walaupun mereka tidak punya tempat tinggal tetap tapi mereka memiliki pasangan. Sesaat aku menghela nafas sambil menyandarkan punggungku pada bangku taman yg ada diseberang jalan. Aku memang senang berlari pagi menyusuri jalan yg masih lengang sambil melepaskan pandangan jauh kearah bukit sebelah matahari terbit. Sesekali ku tengok kanan dan kiri kadang kulontarkan senyuman hangat pada pahlawan pembersih jalanan. Bahkan jika tidak sedang sibuk dengan rutinitasku ditempat bekerja pastilah aku melangkah hingga jari kaki meringis kepedihan, barulah aku tahu kalau dia minta istirahat.
Dan kali ini bangku taman yg usianya sudah senjalah kupilih untuk merehatkan diri sejenak. Aku sudah tidak muda lagi kadang ku berfikir apa akulah yg terlalu memasang target melebihi kemampuanku, atau memang tidak ada jodoh untukku didunia ini. Walau sering terbesit kalau aku harus segera menikah agar usiaku saat mengurus anak-anak nanti tidak terlalu tua, namun lagi-lagi bayangan kelam delapan tahun lalu sering kali berbisik menghantui. Bukan tanpa ikhtiar sebenarnya aku pernah bertaaruf dengan seorang ikhwan yg kukenal melalui saudara sepupuku. Awalnya aku ragu menerimanya karena dia bukan tipeku. Dia  pria yang tinggi dan kurus namun tubuhnya tegap terlihat sangat gagah, orang tuanya yg sudah sepuh mewariskan bisnis transportasi padanya sehingga setiap hari rutinitas diapun agak padat.
Keluargaku yg telah lama mengharap aku segera menikah terlampau senang dan mendorong agar tanggal pernikahan dipercepat. Perhatiannya penuh cintanya terasa begitu manis dan janji-janjinya meyakinkan.
Akhirnya bulat sudah keyakinanku untuk dipinangnya, tanggal cantik itu mahar indah itu gaun pengantin itu kartu undangan itu yg membuatku tak tidur bermalam-malam hingga kini masih hangat dalam pikiranku dan pasti tangisku pecah mana kala mengenangnya. Betapa tidak sehari sebelum hari perjanjian agung itu dia baru menyampaikan kabar yg mengejutkan seluruh keluarga besarku. Rasanya badai baru saja datang turun tepat diatap rumah kami, disaat janur kuning telah dipasang, surat undangan telah sampai ketangan mereka. Dia baru mengabari bahwa dia telah menikah sebelumnya dan mantan istrinya ingin kembali. Saat mendengar kabar yg langsung keluar dari mulutnya sendiri itulah aku tertegun lama dan tak berkedip. Apa ini nyata? Aku tidak sedang bermimpi? Mengapa baru sekarang kau memberitahuku? Apa niatmu baik padaku?

Diapun terdiam bisu ragu-ragu memberi alasan percuma yg pasti tak kan ku dengarkan lagi. Namun kata terakhirnya maafkan aku sebenarnya aku sakit hati ditinggal oleh istri yg amat ku cintai namun kini dia sudah insaf dan ingin kembali. Sudah cukup kataku dalam hati ini cukup sampai disini. Cukup sudah aku masih harus menanti jodohku sampai batas waktu ....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar